Lorong Loess dan Rahasia yang Dikunci Batu

Di sebuah dataran berangin yang tanahnya pucat keemasan—ringan, rapuh, dan mudah membentuk tebing kecil—hidup sekumpulan hewan yang menamai wilayahnya Loess. Tanah di sana tidak gelap seperti hutan, tidak merah seperti bukit liat, melainkan kuning pudar seperti tepung yang ditabur matahari. Bila hujan turun, tanah itu menyimpan jejak kaki dengan sangat jelas, seolah bumi ingin menceritakan siapa saja yang melintas.

Di tengah dataran itu ada gundukan tua yang tidak pernah benar-benar jadi milik siapa pun. Ia bukan sarang, bukan lubang, bukan pula bukit biasa. Gundukan itu seperti punggung raksasa yang tertidur—ditumbuhi rumput liar, bunga liar, dan beberapa pohon kecil yang akarnya mencengkeram tanah setipis janji.

Para hewan menyebutnya Bukit Sunyi.

Tidak ada yang tahu persis berapa umur Bukit Sunyi. Burung hantu tertua, Eja, pernah berkata bahwa sebelum ia lahir pun bukit itu sudah ada. Badger tua bernama Grom bersumpah ia mencium bau masa lalu dari sana—bau batu yang sudah terlalu lama memendam kisah. Kelinci-kelinci muda bilang bukit itu menyeramkan, karena tiap malam angin di puncaknya berbunyi seperti bisik-bisik orang yang tidak terlihat.

Satu-satunya yang tidak takut adalah rubah muda bernama Rahi.

Rahi bukan rubah yang paling cepat atau paling kuat, tetapi ia punya sesuatu yang sering lebih merepotkan daripada taring: rasa ingin tahu. Ia suka mengikuti aroma yang “tidak seharusnya” ada, menelusuri jejak yang “sudah tidak mungkin” masih terasa, dan mengajukan pertanyaan yang membuat hewan lain menghela napas panjang.

“Apa isi bukit itu?” tanya Rahi pada suatu sore, ketika langit berwarna tembaga dan bayangan rumput memanjang seperti jarum.

“Sunyi,” jawab Grom singkat.

“Sunyi itu bukan isi,” protes Rahi. “Sunyi itu… keadaan.”

Grom mendengus. “Kalau kamu terus memaksa memberi nama pada hal yang tidak mau dinamai, suatu hari kamu akan menemukan jawaban yang tidak kamu suka.”

Eja, si burung hantu, menatap Rahi dengan mata yang seperti dua kancing malam. “Bukit Sunyi bukan tempat untuk anak muda yang haus cerita. Ada hal yang harus dibiarkan tertutup, bukan karena kita takut, tapi karena kita menghormati.”

Rahi mengangguk seolah mengerti, tetapi di dalam kepalanya, kata “tertutup” justru terdengar seperti tantangan.

Malam itu, saat hewan lain sudah masuk sarang, Rahi berjalan sendirian ke Bukit Sunyi. Angin membawa aroma tanah kering dan bunga liar. Ia menundukkan kepala, mengendus, mencari retakan kecil—celah yang tidak dilihat mata malas.

Di sisi bukit yang menghadap dataran, ia menemukan sesuatu: sebuah lubang sempit yang tampak seperti bekas liang yang ambruk. Tetapi aromanya berbeda. Ada bau batu tua, abu lama, dan sesuatu yang metalik—seperti bekas hujan pada besi.

Rahi merapatkan telinga. Tidak ada suara. Bahkan jangkrik seolah menahan napas.

“Kalau memang harus menghormati, aku menghormati dengan cara tahu,” gumamnya, lalu menyusup masuk.

Lorong itu sempit. Tubuh rubahnya harus meringkuk. Dindingnya bukan akar, melainkan tanah loess yang dipahat rapi. Atapnya meruncing seperti dua garis yang bertemu, seakan pembuatnya tahu cara menahan runtuh.

Rahi merayap pelan. Ia merasakan udara di dalam berbeda: lebih dingin, lebih berat, seolah masa lalu punya suhu sendiri.

Beberapa langkah kemudian, cakarnya menyentuh sesuatu yang keras. Ia mengorek sedikit tanah dan menemukan benda melengkung—sepotong logam berbentuk bulan yang patah. Ia tidak tahu namanya, tetapi ia tahu baunya: kuda. Di dataran itu pernah lewat para raksasa berkaki dua bersama hewan besar bertapak keras. Mereka jarang datang sekarang, tetapi jejak mereka kadang masih tersisa seperti cerita yang dilupakan.

“Kenapa benda ini ada di sini?” bisik Rahi.

Ia melanjutkan. Di sebuah ceruk kecil di dinding, ada pecahan benda bulat—seperti kulit telur yang tebal, tapi bukan telur. Rahi menjilatnya sedikit, lalu meringis. Rasa tanah, rasa asap, rasa tangan asing. Pecahan tembikar.

Semakin jauh, lorong itu berbelok lembut. Tidak ada cahaya. Rahi hanya mengandalkan hidung dan ingatan arah. Lalu ia mencium sesuatu yang membuat bulu tengkuknya berdiri: bau rubah.

Ia berhenti.

Bau itu bukan bau rubah hidup yang hangat dan berminyak. Ini bau rubah yang sudah lama menjadi tanah. Bau yang membuat perutmu kosong karena menyadari sesuatu: setiap napas adalah pinjaman.

Rahi merayap maju dengan kaki gemetar, dan di sana—di ujung lorong yang sedikit melebar—ia melihat bentuk pucat di kegelapan: tulang-tulang kecil, tengkorak yang halus, rahang yang masih tampak seperti sedang menyeringai.

Rahi menelan ludah. “Siapa kamu?”

Tidak ada jawaban, tentu saja. Tetapi di lorong yang menelan suara, Rahi merasa seolah tulang itu mendengarkan.

Ia mundur setengah langkah, ingin kabur. Namun rasa ingin tahunya menariknya kembali, seperti tali tak terlihat yang mengikat ekor. Ia melihat sekeliling. Ada jejak arang, serpihan tulang mamalia kecil, dan batu-batu yang tampak pernah disusun, lalu disingkirkan.

Ini bukan liang alami. Ini dibuat. Dan bukan oleh hewan.

Ketika Rahi menoleh, ia terkejut melihat sesuatu yang membuatnya lebih takut daripada tulang: lorong di belakangnya tampak lebih gelap, seolah bayangan mengental. Ia merayap cepat, tetapi rasanya udara menjadi semakin berat.

Lalu krak.

Ada suara retak halus. Tanah di atasnya bergetar. Sejumlah butir loess jatuh seperti hujan tepung.

Rahi menjerit tanpa suara dan berlari merangkak secepat mungkin. Namun lorong sempit membuatnya tersangkut. Ia memaksa bahunya, mencakar dinding, hingga napasnya memantul menjadi panik.

Di belakang, ia mendengar sesuatu bergeser—bukan tanah runtuh, melainkan batu. Seolah ada tangan tak terlihat yang menutup pintu.

Rahi berhasil mencapai mulut lorong, tetapi yang dulu berupa lubang kini dipenuhi batu-batu kecil yang tersusun rapi dari luar. Bukan ambruk acak. Ini disusun.

Ia mencakar batu, menggigit, mendorong. Batu-batu itu tidak bergerak.

Rahi terperangkap.

Dalam gelap yang kembali, Rahi merasakan rasa malu merambat di kulitnya. Ia teringat kata-kata Eja: “Ada hal yang harus dibiarkan tertutup.” Ia teringat dengus Grom tentang jawaban yang tidak disukai.

“Baik,” bisiknya dengan napas pendek. “Aku sudah dapat jawabannya. Sekarang… bagaimana keluarnya?”

Hari pertama, Rahi mencoba merobohkan susunan batu. Ia mendorong dan menggali dari bawah. Loess lembut runtuh, tetapi batu tetap bertahan seperti niat. Kuku-kukunya sakit. Giginya nyeri.

Hari kedua, ia duduk di dekat ceruk tembikar, mencoba menenangkan diri. Ia memperhatikan lorong lebih teliti. Dindingnya punya goresan halus—bekas alat, bukan cakar. Ada tempat yang sedikit lebih lapang, seperti ruang kecil. Dan di ruang kecil itu, ada lekukan pada lantai, seolah pernah ada sesuatu ditanam atau diletakkan.

Ia kembali ke ujung tempat tulang rubah berada. Ia duduk di sampingnya, entah kenapa merasa lebih aman dekat sesuatu yang sudah selesai dengan ketakutan.

“Kalau kamu dulu terjebak juga,” kata Rahi lirih, “kita senasib.”

Tentu saja, tulang tidak menjawab. Namun dalam keheningan, Rahi mulai mendengar hal yang selama ini ia abaikan: suara napasnya sendiri, suara jantungnya, dan suara… ingatan.

Ia membayangkan rubah yang tulangnya kini diam. Mungkin rubah itu juga penasaran. Mungkin rubah itu juga masuk tanpa izin. Mungkin rubah itu juga menemukan benda-benda asing dan merasa dirinya penemu.

Lalu pintu ditutup batu.

Rahi menggigil. Ia menatap lorong yang gelap, lalu kembali pada batu di mulut.

Pada hari ketiga, dari luar terdengar suara samar. Bukan suara hewan kecil. Ini langkah-langkah berat—dup… dup…—diikuti getaran yang merambat ke dinding.

Rahi menempelkan telinga. Ada suara yang seperti dengusan besar, diikuti bunyi menggaruk.

“Grom?” panggilnya.

Tidak ada jawaban, tetapi batu-batu di mulut lorong bergeser sedikit. Cahaya tipis merembes masuk, menyentuh tanah seperti garis harapan.

Batu bergeser lagi. Sebuah moncong hitam muncul di sela.

“Bau bodoh,” dengus Grom. “Aku sudah menduganya.”

Rahi hampir menangis. “Aku… aku terjebak.”

Eja muncul di atas, bayangannya menutup cahaya. “Bukit Sunyi punya cara sendiri mengajari.”

Grom dan beberapa hewan lain—marmot, tikus tanah, bahkan seekor rusa muda yang kebetulan lewat—bekerja bersama. Mereka tidak membongkar semua batu, hanya membuat celah cukup besar. Grom melakukan bagian berat. Tikus tanah menggali bagian loess. Marmot mengangkut butiran tanah keluar.

Saat akhirnya Rahi merangkak keluar, tubuhnya penuh debu, mata merah, dan telinganya masih berdengung oleh gelap.

Ia terbatuk, lalu mengangkat kepala. “Aku melihat… terowongan yang dibuat bukan oleh hewan. Ada logam bau kuda. Ada pecahan tembikar. Ada arang. Dan ada… rubah yang tinggal tulang.”

Eja memejamkan mata sejenak, seolah mendengarkan sesuatu dari masa lampau. “Jadi lorong itu nyata. Bukan cuma cerita.”

Grom menatap Bukit Sunyi dengan lebih serius daripada biasanya. “Kalau ada benda raksasa dan jejak tangan asing di dalamnya, itu artinya Bukit Sunyi bukan sekadar bukit. Itu tempat yang dipakai banyak zaman.”

“Kenapa mereka membuat lorong di situ?” tanya rusa muda.

“Karena tempat tinggi yang mudah dikenali,” kata Eja pelan. “Atau karena tempat tua membuat mereka merasa dekat dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka.”

Rahi duduk, mengusap wajah. “Dan kenapa pintunya ditutup batu?”

Grom menatap Rahi tajam. “Karena rahasia selalu ingin tinggal rahasia. Dan kadang, yang menutup bukan tangan yang sama dengan yang membuka.”

Malamnya, hewan-hewan berkumpul di sekitar Bukit Sunyi. Mereka tidak masuk lagi, tetapi mereka tidak bisa pura-pura tidak tahu. Pengetahuan itu seperti duri kecil: tidak membunuh, tetapi mengganggu langkah.

Rahi, yang biasanya paling banyak bicara, justru diam. Ia melihat bintang, lalu memandang bukit. Ia merasa bukit itu bukan lagi punggung raksasa tertidur, melainkan arsip—tempat kisah-kisah ditumpuk tanpa label.

Eja berkata, “Kita punya dua pilihan. Menutup kembali lubang itu dan melupakan, atau menjaga agar tidak ada yang masuk sendirian lagi.”

“Yang kedua,” kata Rahi cepat, suaranya serak. “Aku tidak mau ada tulang rubah lain yang menunggu ditemani.”

Grom mengangguk. “Berarti kita perlu penjaga.”

Marmot mencibir. “Penjaga? Kita ini hewan, bukan pasukan.”

Eja mengangkat sayapnya sedikit. “Penjaga bukan selalu yang bertaring. Kadang penjaga adalah yang ingat.”

Jadi mereka membuat kesepakatan: tidak ada yang masuk lorong itu tanpa rombongan, tanpa tali penanda, tanpa rencana keluar. Dan lubang itu ditutup sebagian—bukan untuk mengubur rahasia, tetapi untuk mengatur rasa ingin tahu.

Namun, rasa ingin tahu tidak pernah benar-benar patuh.

Beberapa minggu kemudian, datanglah musim ketika para raksasa berkaki dua muncul lagi di dataran. Mereka membawa tongkat panjang, tali, dan benda-benda yang berkilau. Mereka tidak berburu. Mereka mengukur tanah, memasang patok, dan berbicara dengan suara yang terdengar seperti batu saling bergesek.

Hewan-hewan mengamati dari jauh.

“Kalau mereka menemukan lorong itu?” tanya rusa muda.

“Mereka mungkin akan menggali lebih besar,” jawab Grom. “Raksasa suka membuka apa pun yang tertutup.”

Rahi menatap patok-patok itu dan merasakan sesuatu dalam dadanya: campuran takut dan lega. Takut karena Bukit Sunyi akan terusik. Lega karena mungkin, akhirnya, lorong itu akan dipahami—bukan sekadar legenda yang menelan rubah.

Malamnya, Rahi bermimpi ia kembali ke lorong, tetapi kali ini tidak sendirian. Ia membawa lampu kecil dari kunang-kunang, membawa tali, membawa Eja yang terbang di atas, dan Grom yang berjalan di depan. Di ujung lorong, tulang rubah itu tidak lagi menyeramkan, melainkan seperti penanda: “Sampai sini, pernah ada yang mencoba.”

Saat bangun, Rahi sadar: yang membuatnya hampir mati bukan hanya lorong sempit, tetapi kesombongan yang datang bersama rasa ingin tahu. Ia ingin jadi “penemu” sendirian. Ia ingin punya cerita yang tidak dimiliki orang lain.

Padahal, bukit itu bukan panggung. Itu perpustakaan tanpa penjaga. Dan perpustakaan yang dibiarkan tanpa aturan akan berubah jadi reruntuhan.

Beberapa hari kemudian, Rahi mengajak hewan-hewan muda berkumpul. Ia tidak bercerita dengan gaya pahlawan. Ia bercerita dengan gaya orang yang pernah bodoh.

“Aku masuk karena aku pikir aku berhak tahu,” kata Rahi. “Aku lupa bahwa ‘ingin tahu’ tanpa ‘hormat’ itu cuma lapar yang tidak punya tata krama.”

“Lalu bagaimana caranya hormat?” tanya kelinci kecil.

Rahi menunjuk Bukit Sunyi. “Dengan mengakui bahwa tempat ini lebih tua dari kita. Dengan tidak menganggap semua hal dibuat untuk memuaskan kita. Dengan tidak pergi sendirian saat kita menyentuh sesuatu yang bisa menelan kita.”

Eja menambahkan, “Dan dengan sadar bahwa rahasia kadang bukan untuk disimpan selamanya, melainkan untuk dibuka pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat.”

Grom menggeram pelan, tetapi itu geram setuju. “Kalau kamu harus menggali, gali bersama. Kalau kamu harus tahu, tahu bersama.”

Musim berganti. Patok-patok raksasa bertambah. Kadang terdengar bunyi mesin jauh. Namun Bukit Sunyi tetap berdiri, walau rumput di sekitarnya jadi lebih jarang.

Suatu sore, ketika langit kembali berwarna tembaga, Rahi berdiri di sisi bukit dan menatap lubang yang sekarang tertutup sebagian. Ia menempelkan telinga ke tanah.

Ia tidak mendengar suara rubah tulang itu, tentu saja. Tetapi ia seolah mendengar pesan yang pelan dan sederhana:

Tidak semua pintu ditutup untuk mengusirmu. Ada pintu yang ditutup agar kamu belajar mengetuk.

Rahi tersenyum kecil—senyum yang tidak sombong, tidak juga takut. Hanya senyum orang yang paham bahwa hidup bukan soal membuka semua rahasia, melainkan memilih rahasia mana yang dibuka dengan bijak.

Dan sejak hari itu, di Loess, rasa ingin tahu tidak lagi dianggap musuh. Ia dianggap api: berguna untuk menghangatkan, tetapi jika dibawa sendirian ke ruang sempit, ia bisa menghabiskan oksigen dan meninggalkan tulang.

Pesan moral: Rasa ingin tahu itu perlu, tapi harus ditemani hormat, persiapan, dan kebersamaan. Pengetahuan yang dikejar demi gengsi sering berakhir jadi jebakan; pengetahuan yang dikejar demi kebaikan bersama bisa jadi jalan pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link